Hari ini cuaca sangat cerah. Rencana kepindahan suamiku berubah, yang harusnya minggu besok malah semakin cepat menjadi hari besok. Otomatis kami harus sesegera mungkin mengepak barang-barang yang lumayan banyak. “Mas ternyata banyak juga ya barang kita”, kataku sambil agak manyun. Suamiku tersenyum melihat mimik wajahku. “Iya lah kan Syifa sendiri yang tiap bulan belanja ini dan itu, ya akhirnya jadi setumpuk ini”, suamiku menimpali. “Tapi kan kita beli karena emang bener-bener butuh”, sahutku manja. “Ya udah kalo gitu kita kerjakan dengan tanpa mengeluh ok sayang”, suamiku kembali tersenyum. “Iya deh iya”, kurubah mimik wajahku supaya tidak kelihatan manyun lagi. Kulihat suamiku tersenyum melihat tingkahku.
Aku memang termasuk orang yang ekspresif. Ketika kondisi marah dan senang akan terlihat sekali pada mimik wajahku. Suamiku bilang kalau aku lagi sedih aku akan jadi sangat pendiam dan terlihat mulutku sedikit manyun sedang bila aku senang, aku akan cerewet sekali dengan mimik muka yang sangat sumringah. Dengan kondisiku ini ternyata malah sering dijadikan bahan guyonan oleh suamiku. Beda dengan sifat suamiku. Mas Fatir cenderung banyak bercanda, ia jarang sekali marah. Orangnya bijaksana dan banyak tersenyum terutama bila melihat tingkahku. Terkadang aku merasa jengkel dengan guyonannya yang terkadang sangat norak. Kepribadian kami memang jauh berbeda, laksana kutub utara dan kutub selatan. Tapi justru dengan perbedaan inilah kami bisa saling mengisi dan melengkapi.
“Sayang biar cepet selesai Syifa beresin buku aja dan langsung taruh ke kardus yang kecil ya, biar barang-barang ini Mas aja yang urus”, celetuk suamiku. “Iya Mas”, sahutku tanpa panjang lebar seperti biasanya.
Aku langsung ke kamar dimana berbagai jenis buku ada menumpuk disana. Hobi kami memang sama, suka baca tapi suamiku lebih cenderung menyenangi dunia teknologi, sedang aku lebih kepada cerpen, novel, dan buku-buku resep. Kubersihkan debu-debu yang masih menempel pada beberapa buku. Aku mulai memisahkan buku-buku terkecil sampai yang paling besar ukurannya.
Tak sengaja mataku tertuju pada sebuah buku diary usang berwarna coklat muda. Aku masih ingat buku itu adalah kado dari sahabatku ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 5. Buku itu sudah lama tak pernah aku buka, warna covernya pun tlah memudar. Aku sangat ingat buku itu, karena dalam buku diary itu lika-liku yang terjadi dalam hidupku selalu kutulis dan berharap selalu memotivasiku. Aku pun mengambil buku itu dan membukanya dengan sangat hati-hati.
April 1993 “Kematian Ibuku Tersayang”. Ya Alloh kenapa Kau ambil ibuku disaat aku masih terlalu dini. Disaat aku sangat membutuhkan kasih sayang dan cinta dari seorang ibu. Aku tidak mengerti kenapa semua ini terjadi padaku, apa salahku?? Aku selalu iri tak kala melihat teman-teman seusiaku bisa bermanja, tertawa, jalan-jalan, curhat dengan ibu mereka. Sedang aku..........Engkau tidak adil padaku. Jika aku sedih, bahagia aku hanya bisa merasakan sendiri. Ayahku.....aku tidak bisa berharap banyak karena terlalu sibuk.
Setelah membaca tulisan ini ingatanku kembali ke masa itu. Ibuku meninggal pada tahun 1987 disaat usiaku baru 5 tahun, waktu itu aku belum begitu faham dengan arti sebuah kematian hingga aku menginjak usia sekolah dasar aku baru mengerti bahwa ternyata ibu tidak akan pernah kembali lagi. Aku hanya bisa menyalahkan Alloh atas semua peristiwa itu. Tak terasa air mataku berlinang.
November 1994 “Kehadiran Orang Yang Selalu Menyakitiku”. Ya Alloh derita apa lagi ini, kenapa Kau kirimkan seseorang yang harus aku panggil ibu. Dia bagaikan srigala berbulu domba, dia selalu mencaci dan memarahiku. Dia selalu mencari-cari kesalahanku, tapi ketika ada ayah dia berubah menjadi sangat baik. Semenjak kehadirannya di rumahku aku mendapatkan gelar “anak pembawa sial”. Aku hanya bisa menangis dan menangis, kemana aku harus mengadu, kemana aku harus berlari sedang untuk berbicara pada ayahku saja aku takut. Aku memang anak yang lemah yang penakut. Aku menjadi sangat pemurung walau masih ku akui dalam prestasi belajar rangking pertama selalu aku raih, tapi.....aku tetap merasa hampa.
Juli 1995 “Penyakit Ganasku”. Masuk SMP Favorit di kotaku adalah satu-satunya impian yang ingin aku raih. Dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi yang aku raih akhirnya aku bisa masuk SMP itu. Tapi......baru seminggu aku masuk tiba-tiba aku terserang penyakit aneh. Persendianku terasa lemas, aku sangat lelah. Malamnya kakiku sangat sakit, aku bisa merangkak. Ajaib......paginya aku sudah tidak bisa apa-apa, semuanya lumpuh total. Aku seperti bayi yang hanya bisa melihat tanpa bisa bergerak sedikitpun. Ayah langsung membawaku ke rumah sakit dan aku ditangani langsung oleh dokter spesialis syaraf. Aku sangat sedih, gimana tidak sekolah yang baru saja aku masuki harus segera aku tinggalkan karena penyakitku. Aku divonis mengidap gangguan sumsum tulang belakang karena makanan yang masuk ke tubuhku sangat kurang.
Sebulan sudah aku di rumah sakit, aku baru bisa menggerakkan jari-jari tanganku. Dokter selalu menasehatiku bahwa aku harus sabar, karena penyakit ini bisa sembuh dengan pertolonnganNya asalkan aku harus berusaha menggerak-gerakkan tubuhku. Mulanya aku patah semangat, tapi setelah ada pasien yang bisa sembuh semangatku untuk sembuh tumbuh kembali. Bayangkan tiap hari aku disuntik 2 kali, dimana jika obatnya sudah masuk ke urat nadiku bau pahit terasa di mulutku. Pergelangan tanganku biru-biru akibat dari suntikan-suntikan itu. Tiap pagi dan sore aku belajar mengangkat tangan, memegang sendok, bangun dari tempat tidur, dan banyak lagi gerakan-gerakan ringan tapi sangat membuat aku cape sekali hingga terus-terusan terasa lapar. Setelah kurang lebih 4 bulan aku sembuh dan bisa berjalan walau belum norma. 8 bulan akhirnya aku sembuh total. Aku tetap masih ingin meneruskan sekolah walaupun sudah ketinggalan 2 catur wulan. Dengan kebijakan dari guru-guru akhirnya aku bisa mengisi ketertinggalanku dengan tiap hari mengerjakan soal ulangan untuk mengisi nilai-nilaiku yang kosong. Semenjak sakit aku sering belajar sendiri karena materinya pun belum terlalu sulit. Dengan semua kejadian ini tanyaku masih juga terucap “kenapa ini semua terjadi padaku ?”
Juni 1998 “Kututup Auratku”. Entah karena dorongan siapa aku memutuskan untuk memakai jilbab. Aku masih ingat jilbab dan pakaian muslimku hanya punya 2 setel. Tapi aku makin semangat memakainya. Semua ini aku lakukan sendiri tanpa seorang ibu. Aku tumbuh menjadi pribadi yang pendiam dan tertutup. Cercaan di rumah masih saja aku dapatkan. Terkadang aku selalu bertanya pada diri sendiri, “ Ya Alloh akan seperti apa jalan hidupku nanti ? Kenapa yang selalu aku inginkan tidak pernah aku dapatkan? kenapa hanya derita dan derita yang aku peroleh”. Aku hanya bisa menangis.
Februari 1999 “Aku selalu sendiri”. Hidupku selalu terasa sendiri walau aku punya banyak teman. Prestasiku di SMA semakin bagus, hingga aku tidak pernah mengenal yang namanya pacaran. Aktivitasku hanya untuk belajar dan belajar. Terkadang iri dalam hatiku muncul, temen-temen punya segala-galanya orang tua yang begitu perhatian, pacar yang selalu pulang bareng, dan lain sebagainya. Sedang aku............kapan aku bisa merasakan hal itu semua.
Mei 2001 “ Cita-citaku kandas “. Aku sangat suka dengan pelajaran Biologi dan Matematika, hingga aku berangan-angan ingin menjadi seorang ilmuwan. Tapi ternyata ayah tidak menyetujuinya, aku memang hanya bisa diam tanpa bisa berargumen. Akhirnya aku mengikuti PMDK ke salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Akhirnya aku diterima. Mulanya prestasiku bagus tapi lambat laun IPK yang tadinya bagus makin lama makin berkurang. Aku merasa tidak suka dengan jurusan ini yang notabene semua pelajarannya adalah fisika. Jurusan ini menurutku hanya cocok untuk cowok. Tapi disisi lain ditempat inilah hidayah keislamanku semakin kuat. Di Perguruan Tinggi inilah aku mendapat arti hidupku yang sesungguhnya dan mulai mengerti dengan scenario-skenario yang telah Alloh gariskan untukku. Kemudahan-kemudahan pun datang silih berganti hingga pada September 2005 aku bisa meraih gelar sarjanaku tepat waktu dengan nilai pas-pasan. Tapi aku merasa bahagia. Apalagi dosen pembimbingku selalu memberi nasehat kehidupan untukku. Beliau selalu berkata,” Jangan pernah patah semangat, jika kita mau berusaha tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini, apalagi jika kita terus-menerus meminta kepada Alloh”. Pesan itu begitu singkat tapi maknanya begitu dalam untukku.
Mei 2006 “Awal kehidupan baruku”. Setelah lulus aku mulai bekerja sebagai guru privat, walaupun gajinya kecil aku masih bisa bersyukur. Akhirnya aku pun menikah dengan seseorang yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Semuanya begitu cepat. Alhamdulillah dia orang yang sangat baik dan sholeh. Aku pun merasa bahagia walau kesedihan teringat akan ibu masih ada. “Aku rindu padamu “.
Selesai membaca diary ini tak terasa air mataku semakin berlinang. Ya.........itulah tiap episode perjalanan hidupku yang aku abadikan dalam sebuah diary usang. Dari kejadian pada diary inilah aku bisa memaknai yang namanya kehidupan. Dulu........hidupku selalu penuh dengan keluh kesah dan iri terhadap orang lain tanpa aku bisa bersyukur dengan apa yang aku punya. Dulu .........aku selalu merasa Alloh tak adil padaku. Tapi.............ternyata aku salah. Justru dengan derita yang aku perolehlah aku begitu banyak melihat cahaya. Cahaya yang begitu indah kurasakan, cahaya yang kan terus ada bersemayam pada jiwaku. Aku semakin yakin apa yang kita anggap buruk belum tentu buruk dimata Alloh dan sebaliknya. Skenario Alloh memang selalu datang silih berganti, kadang derita kadang bahagia. Tapi jika kita mampu melihat semuanya dengan keimanan, semua itu hanya fatamorgana belaka.
Kuusap foto ibu yang sudah berdebu, kulihat senyum ibu disana. “Bu doakan aku selalu”. Kuusap air mataku, diary usang ini kumasukan dalam kardus bersama foto ibu. “Syifa……. kenapa melamun”, tiba-tiba suamiku sudah disampingku. Aku hanya menunduk sambil mengusap air mataku. “Sayang kenapa menangis?”, daguku diangkatnya, kulihat senyum tersungging di wajah suamiku……senyum itu sangat meneduhkan. “Nggak……..anu tadi mataku kena debu” jawabku singkat. “Ya udah biar Mas aja yang lanjutin beres-beresnya soalnya pekerjaan Mas dah selesai”, kata suamiku sambil mengusap sisa-sisa air mata di pipiku.
Sebenarnya suamiku tahu bahwa aku menangis, tapi dia selalu berusaha menghiburku. “Sayang mulai sekarang aku tak ingin melihat wajah murungmu, aku hanya selalu ingin melihatmu tersenyum……….ya?”, matanya menatapku. Kuanggukkan kepalaku sambil tersenyum, “Makasih Mas”.
Dalam dekapan suamiku dan naungan cinta Nya aku hanya bisa berharap semoga sekarang dan sampai kapan pun cahaya itu kan selalu ada menaungi hidup kami.