Assalam

Assalam

A S Y A


Jendela ini masih berembun tak kala ku tersadar dari lamunan, ternyata hujan yang begitu deras telah mengantarkan aku tertidur. Kutengok diluar jendela, gemercik air sudah tak terdengar syahdu lagi ditelingaku. Padahal dulu hujan adalah hal yang paling indah dan menarik dalam hidupku, aku sangat menyukai perubahan awan yang tadinya putih menjadi gelap pekat disusul berjatuhan air yang begitu bening menyegarkan. Sekarang hari – hariku terasa hampa tak berujung.
            Ketika Negara ini sedang sibuk dengan berbagai bencana seperti yang paling actual adalah jatuhnya pesawat ADAM AIR, aku seolah tidak peduli dengan semuanya. Aku berpikir buat apa aku mikirin orang toh selama ini aku selalu sendiri menghadapi kepahitan, orang lain mana ada yang peduli.
            Bruk…..terdengar suara stang motor menabrak motor yang ada dihadapannya dengan kecepatan yang tinggi. Aow…..astaghfirulloh….jeritan seorang wanita dan laki-laki yang terpelanting jauh ke pinggir jalan, ia terlihat meringis menahan sakit yang amat sangat di perut dan punggungnya.
            “Ya Alloh……apa yang terjadi…..aku tertabrak”,erang wanita itu. Ia melihat ke pinggir jalan, terlihat laki-laki yang bersamanya yang tak lain adalah suaminya bersimbah darah di kakinya. Ia hanya bisa menatap dan berbicara dengan suara hampir menangis, “Ya Alloh semoga tidak terjadi apa-apa dengan suamiku.
            Kerumunan orang-orang pun semakin banyak menyaksikan kecelakaan yang terjadi. Kedua orang itu akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit. Sampai di Unit Gawat Darurat wanita itu belum mendapatkan pemeriksaan yang baik karena dokter yang bersangkutan belum datang. Ia kembali menahan sakit yang amat sangat sambil memegang perutnya,”….apakah aku keguguran?” Tak terasa air mata airnya menetes. Selintas terbayang sosok yang sangat dirindukannya, seseorang yang selama ini tidak banyak hadir dalam riak-riak kehidupannya. Seseorang yang selama ini telah meninggalkannya untuk selama-selamanya……ya sosok itu adalah ibunya, ibu yang sangat ia sayangi dalam dunia maya…..karena sayang yang ia punya tidak tahu harus disampaikan pada siapa…..mungkin yang ia bisa hanya pada sebuah foto yang masih tersimpan rapi di dompetnya.”Ibu seandainya kau ada disini, aku…aku….aku”batinnya memberontak, tak urung kalimat iti tidak ia lanjutkan karena hatinya seperti tergores kembali.
            Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca kembali tak kala terdengar vonis suaminya harus di bawa ke Rumah Sakit yang lain karena fasilitas di Rumah Sakit tersebut tidak lengkap.Ia hanya bisa diam tidak bisa berbuat apa-apa menyaksikan suaminya dibawa dalam blangkar tanpa berucap sedikitpun. Ia terlihat melihat langit-langit yang seakan ingin diajaknya bicara.Matanya melemah, bayangan orang-orang yang ada dihadapannya menghilang,dinding serasa berputar…….hitam pekat.
            Kembali ia membuka matanya, suasana berbeda ……. Ruangan serba putih menghiasi sekelilingnya. “Gimana sekarang bu, sudah merasa biakan?”seorang suster tersenyum padanya.”Tadi ibu pingsan di UGD,sekarang ibu jangan khawatir sebentar lagi dokter akan datang” sapanya lembut.”Makasih suster” hanya itu yang terucap dari bibirnya. Beberapa menit kemudian dokter pun datang, “Pagi bu?gimana perutnya masih sakit?sapa dokter itu. “Masih dok, …..kira-kira kenapa dengan perut saya?jawabnya dengan suara yang lemah.”Ibu tenang aja ya sekarang saya akan melihat perut ibu teruma bagian rahim dengan USG, ibu tenang aja ga akan terasa sakit ko”. Ia hanya pasrah ketika alat USG menempel di perutnya.
            “Alhamdulillah……bayinya ga apa-apa ko bu,malahan bentuk janinnya bagus”perkataan dokter itu seakan menitikan air kesejukan dalam dirinya.”Tapi kenapa perut saya masih sakit dok?”tanyanya dengan cemas.”Insya Alloh ga apa-apa,itu karena benturan yang sangat keras pada perut ibu”kembali dokternya tersenyum.”Baiklah bu kalau ga ada pertanyaan lagi ibu boleh pulang,banyak istirahat dan semoga cepat sembuh,jangan lupa obatnya diminum teratur”.”Makasih dokter”binar bahagia terlihat terbias di bola matanya….walaupun hanya sedikit. ‘Ya…sama-sama bu” dokter pun meninggalkan ruangan itu.
            Sedikit beban itu terasa terangkat dalam dirinya, walaupun kembali kecemasan itu datang ketika ia teringat akan suaminya. Dentingan lagu opick mengalun di HPnya,ia terlihat terburu-buru mengangkat HP itu.”Assalamualaikum…….sayang gimana kata dokter?ayah ga apa-apa kan?”tanyanya cemas.”Sayang……doakan ya kaki ayah patah dan menobros keluar jadi kata dokter ayah harus di operasi” suara itu terdengar tenggang.”Ibu gimana masih sakit perutnya?bayi kita giman?” kembali suaminya bertanya.”Alhamdulillah bayi kita ga apa-apa, tapi perut ibu masih sakit, kata dokter karena benturan itu”. “Ya sudah ibu banyak istirahat, jangan terlalu memikirkan ayah karena dokter yang ahli sudah menangani,ayah minta doa saja”kata suaminya menenangkan.”Ya…..semoga Alloh memudahkan semuanya biar ayah cepet sembuh dan bisa pulang”.”Assalamualaikum….sayang”.”Waalaikumusssalam”. Hening………………terasa hatinya kembali sepi, ingin rasanya ia berada dekat dengan suaminya………..suami yang sangat ia cintai.
            Sesampai di rumah aku hanya terbaring di kamar seorang diri…………..merenung semua kejadian yang pernah aku alami. Aku adalah Asya, putri kedua dari 2 bersaudara. Ibuku sudah lama meninggal karena kanker ganas yang telah lama menggerogotinya, waktu itu aku baru berumur 5 tahun. Umur yang begitu muda untuk mengenal apa arti seorang ibu. Hidupku memang selalu diliputi oleh kepahitan-kepahitan yang bukan aku ciptakan, melainkan sebuah nasib yang datang dan harus aku jalani dengan tidak bisa protes sedikitpun. Kalaupun memang aku protes…..kepada siapa aku protes?umurku belum siap mencari jawaban dari itu semua. Akupun memasuki sebuah dunia yang begitu asing, dimana aku hanya bisa diam …. Melihat….mengerjakan perintah…..dan siap – siap menerima cercaan jika aku tak sengaja melakukan sebuah kesalahan walaupun itu hanya sebuah kesalahan kecil. Sakit hati yang aku rasakan waktu itu hanya aku tumpahkan pada sebuah bantal kumal pemberian ibuku. Dengan menangis, mengadu, dan memeluknya aku bisa kembali tenang. Aku masih ingat bantal itu aku beri nama “Si Unet”.
            Ternyata tidak cukup sampai disitu rasa sakit yang aku alami, aku pun selalu menderita penyakit dalam kategori kelas berat. Genaplah sudah rasa sakit hati dan fisik yang aku terima dari sebuah yang kata orang dinamakan ujian hidup. Ujian Hidup………..apa itu?! Aku benar – benar tidak mengerti. Mataku kembali tertunduk tak kala teringat penyakit lumpuh total pada organ tubuhku. Waktu itu aku akan masuk bangku SMP, riang hatiku bisa bertemu teman – teman dan belajar ilmu – ilmu yang belum pernah aku temui sebelumnya………….tapi baru seminggu aku mengikuti proses belajar penyakit itu datang dan……….hancurlah semua fantasi-fantasi indah dalam anganku. Pertama kakiku tidak bisa digerakkan, tangan, kepala, dan akhirnya seluruh tubuhku. Aku pun aneh melihat apa yang terjadi dengan kondisi ini, karena yang bisa aku lakukan adalah menggerak-gerakan mata saja, bila disamakan kondisiku sama dengan bayi ketika dilahirkan. Aku hanya bisa meneteskan air mata tanpa bisa berbuat apa-apa. Sekali lagi aku ingin marah, protes…….tapi kepada siapa aku harus menumpahkannya. Kembali terdengar sebuah kalimat dari orang – orang yang dateang menjengukku, “Asya…… kamu harus sabar dengan semua ini, yakinlah semua ini terjadi karena Alloh sayang sama kamu” Kata – kata itu semakin membuat aku bingung. Sabar………….apa itu sabar, dan kenapa aku harus terus menerus sabar?!Disayang sama Alloh??? Siapa itu Alloh….kalau memang Alloh sayang padaku kenapa juga hidupku seperti ini??? Kepalaku mendadak pusing mencerna semua ini. Hingga muncul tertuduh dalam kepalaku, “Berarti yang patut aku protes adalah Alloh, kenapa hanya aku yang diberikan seperti ini? Kenapa tidak dengan kakakku? Aku ga mau disayang Alloh jika buktinya seperti ini”. Kembali kepalaku terasa begitu pening dan berat, tak terasa aku pun tertidur.
            Satu, dua, tiga, dan hampir empat bulan aku hidup dengan kelumpuhanku. Sudah beratus-ratus jarum suntik yang masuk ke tubuhku, beribu butir obat yang telah aku telan, dan berbagai terapi yang harus aku lakukan agar aku bisa sembuh. Air mataku hanya menetes tak kala jarum-jarum suntik itu datang. Aku hanya bisa melihat Si Unet dan memegangnya, bantal kumal itu begitu lembut tak kala aku sentuh sepertinya ia mengerti akan penderitaanku. Aku belajar menggerak-gerakkan jari tanganku, susah sekali……keringatku keluar seperti habis berlari mengelilingi lapangan beberapa kali….padahal hanya belajar menggerakkan jari tanganku saja. Kembali aku menangis…….”Ibu kenapa aku seperti ini?apa salah dan dosaku, padahal seingatku aku tidak pernah jahat sama orang…..sama kucing dan semut pun aku sangat sayang”. Kembali aku terisak, “ Bu kenapa engkau tinggalkan aku dengan penyakit seperti ini, aku ingin pergi denganmu, tolong bawa aku Bu……………..Alloh dimana Engakau……..katanya Kau sayang padaku…..tapi mana buktinya……..penyakitku tak kunjung juga sembuh. Tiba – tiba tubuhku menggigil, tak terasa aku mengucapkan kalimat terpatah patah yang kata orang namanya ayat kursi.
         Kini aku sudah terbiasa dengan kelumpuhannku. Tak pernah lagi ada air mata yang menetes di pipiku, seakan – akan air mata itu kering. Aku mulai bisa memahami apa itu sabar, kembali kupeluk bantal kumalku. Mataku menerawang………”Unet bagaimana pun caranya aku harus sembuh, aku tidak mau terkungkung seperti ini, aku masih ingin sekolah……aku masih ingin bermain……berlari dan tertawa. Aku masih ingin memetik bunga di kebun nenek, mencari cacing untuk ikanku, dan….dan….dan…..aku ingin…………………….tiba – tiba tenggorokanku terasa tercekat, tak mampu berkata – kata lagi.
         Hari berganti hari, sudah banyak perubahan dalam diriku. Setidaknya aku bisa duduk dan makan sendiri tanpa disuapi walaupun terkadang sendok yang aku pegang sering terjatuh. Aku masih masih bisa bersyukur.